Kartini : Keluarga Vs Kerja




Satu minggu lalu Indonesi a merayakan yang namanya Hari Kartini. Siapakah beliau ? Kenapa tanggal tersebut ( 21 – April ) ditetapkan sebagai hari Kartini ? Hemm … silahkan bagi anda yang belum tahu mencari. Karena aku tidak akan membahasnya.

Yang pingin aku bahas, kenapa sih saat ini Hari Kartini sering disamakan dengan wanita karir. Senin dan Selasa minggu lalu, wanita yang diangkat sebagai sosok “Kartini” adalah : Pengemudi TransJakarta ( Detik.com ), Menteri ( TV ) dan TKI ( Kompas).

Kenapa gua permasalahkan ??? Apakah yang kamu terpkir oleh otak kamu ketika mendengar kata “Menteri “ … sukses. Kalau kata “ TKI” … korban. Yah mungkin tidak semua dari kamu sependapat, tapi itulah yang ada di otak aku.

Yang aku pingin protes, kalau melihat contoh individu diatas. Mereka adalah orang yang seperti “ memprioritas” kerja daripada keluarga. Kenapa tidak ada ( ini menurut pengetahuan aku yah ) media / organisasi yang mengangkat sosok wanita yang mengutamakan keluarga ketimbang berkerja ( Bukan berkeluarga tapi tidak berkerja yah, jadi berkeluarga sambil berkerja ).

Bingung …. Menurut kamu, seorang TKI / Menteri akan lebih banyak meluangkan waktunya untuk keluarga / kerja ( menurut aku sih kerja ).




Sedangkan yang aku inginkan … sesosok wanita yang lebih banyak meluangkan waktunya untuk keluarga, nah sisa waktu luangnya baru untuk kerja. Atau paling tidak, ketika mereka bersama keluarga tetap bisa berkerja. Bukan ketika berkerja, mereka memikirkan kerluarga.

Ada ga ?

Di dekat rumah, ada 4 toko dengan barang yang dijual relative sama ( toko terdekat sampai terjauh jaraknya cuman +- 500 meter ) :

  1. Toko A : Menjual sayur, minyak, alat memasak
  2. Toko B,C dan D : menjual makanan, minuman, bumbu masakan
  3. Toko D : ditambah beras

Persamaan lain, mereka tinggal dan kerja di situ atau di belakang tokonya . Jadi mereka ketika bersama keluarga bisa juga mencari nafkah ( aku tetap membicarakan wanita yah ).

Tukang cuci di rumah, datang pagi hari siang pulang. Jadi bisa berkumpul lagi dengan anak2 ketika sudah pulang sekolah.

Tukang jahit langganan Ibu, kerja menjahit di rumah.

Jadi …. teman2. Aku bukannya melarang teman ( khususnya wanita ) untuk berkerja .

Tapi please … prioritaskan keluarga kamu diatas perkerjaan.

Aku yakin, kita semua pernah mengalami masa kecil. Masa dimana kita disusui ,disuapin, dimandiin, dikelonin, dininaboboin, diberi kehangatan, didongengin, diantar ke sekolah, diberi uang jajan, didoakan. Dan sebagainya ….

Dan aku yakin kamu senang kan ….

Jadi jika wanita memprioritaskan berkerja … siapakah yang akan menjadi sosok ibu bagi keturunan kita ? ❓




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *