The Blossoming of Maximo Oliveros




Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

1452357.jpgJadi hari minggu 4 hari yang lalu gua nonton pilem The Blossoming of Maximo Oliveros di Taman Ismail Marzuki yang ditayangkan dalam rangka 9th Jakarta International Film Festival.

Jadi ceritanya hari sabtu sebelumnya, gua diajak sama teman-teman tu’ nonton JIFFESt tapi belum tau apa filmnya terus sorenya mau jenguk adik teman yang baru saja operasi.
Sebenarnya gua malas cerita tentang pile mini, karena gua ga mau ada orang lain yang tertarik dengan pilem ini.

Ceritanya tak bermutukah …. hmmm …. anda salah 100% …. tidak seperti pilem Indonesia yang biasanya hanya berisi percintaan, persekongkolan dan harta warisan. Pilem yang dibuat di Filipina pada tahun 2005 dan ditayangkan dengan menggunakan infokus memiliki aluur cerita yang tidak bisa ditebak.

Bercerita tentang seorang anak banci putus sekolah(Maxi), ayah dan kedua kakanya adalah preman. Sedangkan sang ibu sudah meninggal. Pada suatu malam Maxi di ganggu dan kemudian ditolong oleh Victor, polisi ganteng.




Lama-lama si Maxi jatuh hati kepada Victor. Kemudian suatu tragedy terjadi, sang kaka membunuh anak setempat. Karena sang ayah tidak mau anaknya ditangkap, sang ayah menggebuki si Victor yang mengetahui bahwa kakanya Maxilah sang pembunuh karena sering cerita dengan Maxi.

Setelah itu datanglah kepala polis yang baru dan kemudian membunuh si Ayah karena alas an balas dendam. Sebenarnya kedua kaka’ tersebut pingin membalas dendam, tetapi dicegah oleh sanga adik Maxi …”Apakah kalian mau meninggalkanku sendiri …. ”…Karena bisa saja kedua kknya meninggal ditembak polisi ….

Akhirnya sang kaka membatalkan balas dendam dan si adik kembali bersekolah … dengan pakaian jangkisnya ….

Alur ceritanya yang tidak bisa ditebak , si Maxi yang lemah gemulai nan seksi, aksi pembunuhan sang kakak, aksi balas dendam kepala polisi dan cerita kk yang sayank dengan adiknya dan membatalkan rencana balas dendam.

Gua bisa jamin, kalau elu menonton pilem ini … elu ga bakal bisa menebak apa yang akan terjadi.

Tapi walaupun alurnya bagus, Namun gua ga setuju dengan penanyangan pilem ini, khususnya di Indonesia. Budaya yang beda ( Filipina Vs. Indonesia ) menyebabkan pilem ini pornografi ( dalam pandangan gua yagh).

Ada bagian dimana ada orang pria yang tidak berlari tanpa menggunakan pakaian sehelai pun, ada bagian dimana sang polis yang mengenakan segitiga pengaman dan bagian dimana sang ayah bermesraan dengan wanita ( red: ga tahu siapa )….

Sebagai kesimpulan, untuk mengambil sebuah pelajaran tidak harus melalui jalan pornographi kan. Semoga aja ada produser/ sutradara yang membaca tulisanku dan membuat kisah serupa tapi tak sama …

Hehehe … taulah sifat plagiat pilem2 Indonesia kan.

Kalaupun terpaksa mengimpor pilem-pilem dari luar Indonesia, mbok diperhatikan dulu pilemnya. Jangan lupa disensor kalau memang tidak layak ditayangkan di Indonesia.

Ataukah memang hal seperti itu sekarang sudah lumrah, sebagaimana lumrahnya artis2 Indonesia yang berciuman bibir dengan lawan mainnya di film2 bioskop ….

signs03.gif TETAP KATAKAN TIDAK …. DEMOKRASI BUKAN BERARTI merusak norma-norma ketimuran …AGAMA TETAP DIATAS DEMOKRASI

Wassalamualaikum Waramatullahi Wabarakatuh




One Reply to “The Blossoming of Maximo Oliveros”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *