Oposisi atau cari posisi ?




Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dua hari lalu gua membaca berita di www.detik.com. Beritanya tentang partai oposisi di DPR membuat laporan publik di harian kompas sebanyak dua halaman full. Langsung saja gua mencari koran kompas di kantor, tapi gagal gua temukan. Baru akhirnya, malam harinya gua membaca sebagian isi laporan publik tersebut di koran rumah. Kemudian kemarin gua membuka detikforum yang membahas masalah laporan publik kemarin.

Ada yang mendukung, ada juga yang menolak. Yang menerima laporan tersebut beralasan ini sebagai bentuk tanggung jawab kepada rakyat. Tahun sebelumnya, memang ada laporan tetapi tidak sampai dimuat di koran. Sedangkan yang menolak ada berbagai alasan. Ada yang berkata ini sebagai cari muka doang.

Sedangkan hati gua sendiri , menolak pemuatan berita tersebut ( Bukan menolak laporannya). Beberapa argumen gua adalah:

Pertama,pada paragrap pembuka ditulis ” oposisi “. Dalam benak gua, oposisi berarti melawan. Maka fraksi isi bisa dinyatakan melawan pemerintahan. Memang gua akui ada beberapa kebijakan pemerintah yang tidak enak ( biasanya dibilang tidak pro rakyat, atau keputusan yang tidak populer ). Tapi untuk sebuah negara yang berpenduduk diatas 200 juta, kemungkinan besar membuat senang semuanya pada suatu keputusan adalah sulit. Makannya di setiap keputusan ada yang pro dan kontra.




Apalagi fraksi itu berasal dari partai besar, dan memiliki wakil yang cukup banyak di DPR. Dan gua yakin, kalau memang mau, mereka punya kekuatan untuk menolak suatu keputusan. Tapi itu tidak pernah terjadi, termasuk pada kemauan interpelasi terhadap keputusan pemerintah yang dirasa fraksi tersebut tidak pro rakyat.

Kedua, kenapa tahun ini laporan tersebut dimuat di koran dengan ukuran yang besar. Menurut gua, laporan seperti ini lebih bersifat politik. Jadi hanya orang-orang yang benar-benar mengikuti masalah politik akan mengerti. Memang gua akui, Kompas sebagai harian Nasional terbesar di Indonesia. Sebagian besar pembacanya adalah orang-orang intelek. Tapi bukan berarti mereka semua mengikuti politik khususnya di DPR, karena ada juga yang membaca masalah ekonomi tok.

Kalau melihat laporan ini, teringat dengan masa orde baru. Setiap tanggal 16 Agustus, harian kompas memberikan suplemen berupa pidato kenegaraan presiden Soeharto. Ataupun berita berita yang pada intinya berisi ucapan selamat atas suatu peresmian, penerimaan penghargaan ataupun ucapan ulang tahun.

Kalaupun terpaksa dimuat di koran, mungkin ada baiknya jika hanya satu halaman saja atau diberikan dalam bentuk suplemen. Jadi bagi mereka yang memang benar-benar tertarik, akan membaca. Bukan fraksi tersebut yang membuat sensasi dengan 2 halaman full.

Dan alasan ketiga,
da ah … entar gua dibilang oposisi fraksi itu pula …

Keep positive aja degh … tetap berjuang Indonesiaku … 😆

Laporan

Wassalamualaikum Waramatullahi Wabarakatuh




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *